Sebuah masyarakat di suatu daerah
memiliki hubungan kekerabatan yang berbeda – beda. di beberapa tempat, hubungan
kekerabatan yang dekat antar anggota masyarakat dapat menciptakan sebuah
masyarakat yang kolektif. Terutama masyarakat yang memiliki satu nilai dan
norma yang sama. dan memiliki rasa toleransi yang tinggi sesame anggota
masyarakatnya.
Bila hubungan kekerabatan tersebut terus
menerus dibangun dan rasa kekeluargaan meningkat, maka hal ini akan menimbulkan
sebuah hal yang dinamakan kekuatan social. Bila sebuah kekuatan social sudah
menjadi kekuatan daripada daerah tersebut hal tersebut dapat saja berkembang
menjadi sebuah kebudayaan local dan menjadi kearifan local budaya setempat.
Kekuatan social saat ini terutama
dibangun oelh beberapa masyarakat di daerah adalah merupakan salah satu cara
bagi mereka untuk bertahan hidup. Berdasarkan pendekatan Sustainable
Livelihoods Approach manusia menyandarkan hidup pada lima modal yang
dimiliki yaitu financial capital, human capital, natural capital, physical
capital, dan social capital (Farrington et al. 1999).
Kekuatan social yang dibangun oleh masyarakat dapat dikategorikan ke dalam
modal social. dimana bagi masyarakat pedesaan modal tersebesar yang mereka
miliki hanyalah sesame anggota masyarakat tersebut.
Dan dalam rangka mempertahankan
kelangsungan hidup dan mensejahterakan kehidupan mereka, mereka membangun
kekuatan social tersebut. Namun, kekuatan social yang dibangun di suatu
masyarakat, dapat hilang perlahan dan akan punah bila tingkat homogenitas
menurun dan rasa toleransi yang ada
diantara warga masyarakat juga menurun.
Di perkotaan, dimana tingkat entropi
sosialnya sangat tinggi, juga sifatnya yang heterogen karena berasal dari
berbagai macam latar belakang suku . budaya , dan kepentingan , bentuk kekuatan
social sepertinya akan sulit ditemukan. Bukan tidak mungkin terciptanya sebuah
kekuatan di lingkungan perkotaan namun, tipe masyarakat kota yang sangat beragam,
berasal dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda dan memiliki kepentinannya
masing – masing terkadang melupakan bahwa mereka tidak hidup sendiri dalam
kehidupan sehari – hari mereka.
Biasanya masyarakat perkotaan membentuk
sebuah perkumpulan hanya karena mereka membutuhkan perkumpulan tersebut. itupun
dibangun tidak menyeluruh. Seringkali berbeda wilayah atau lingkup RT atau RW
saja, warga masyarakatnya sudah memiliki perkumpulan swndiri. Telah membentuk
sebuah lembaga sendiri yang hanya mereka sepakati bersama sesama warga yang berada dalam satu wilayah saja.
Perkumpulan yang didirikan oleh
masyarakat perkotaan biasanya juga dibentuk bukan karena rasa keterikatan yang
kuat dari dalam diri mereka. Walaupun ada beberapa lembaga di masyarakat
seperti DKM, perkumpulan ibu – ibu PKK, dll , yang sebenarnya bertujuan untuk
mendekatkan dan mengumpulkan masyarakat di sekitarnya, tidak semua warga
berkenan bergabung dalam kelompok tersebut. Terdapat tingkat apatis yang tinggi
di masyarakat perkotaan dimana bila mereka tidak ingin , mereka tidak akan mau
melakukan suatu hal tersebut.
Dalam memenuhi kebutuhan hidup pun,
masyarakat kota lebih mengandalkan kemampuan individu masing – masing . Mereka
merasa, apa yang mampu membuat diri mereka bertahan hidup dan mampu
mensukseskan hidupnya adalah melalui kemampuan dirinya sendiri. Masyarakat kota
dibandingkan engan ungkapan tidak ingin membutuhkan orang lain , mereka lebih
ingin dideskripsiskan sebagai manusia yang mandiri. Yang tidak harus meminta
pertolongan ke orang lain selama masih mampu melakukan semua hal sendiri.
Walaupun begitu, mereka tetap harus
menjaga keharmonisan hidup dalam bertetangga. Masyarakat kota biasanya tetap
menyadari pentingna menjaga agar hubungan dengan masyarakat sekitar mereka tetap
saling baik – baik saja. Namun, karna perbedaan kepentingan dan kesibukan orang
kota lah yang membuat mereka semua jauh dari kata kekuatan social.
Belum lagi bila kehidupan perkotaan yang
dimaksud adalah kehidupan perkotan ala warga kota metropolitan, yang hidup di
wilayah gedongan, dimana rumah hanya dijadikan sebagai tempat mandi dan tidur.
Mereka tidak akan mampu bersosialisasi secara intens dengan sesame warga yang
tinggal di daerah setempat. Mereka pasti lebih condong untuk bersosialisasi
dengan teman kerja mereka ataupun keluarga mereka saja.
Selain itu masyarakat kota cenderung
meminta pertolongan kepada lembaga – lembaga formal yang sudah berdiri dan
menawarkan jasa pertolongan terhadap sesuatu.Di perkotaan banyak sekali
terdapat lembaga jasa dan tempat – tempat pemenuhan kebutuhan yang masyarakat
bisa dapatkan. Dimana dalam mengakses jasa tersebut, mereka juga lebih
menggantungkan kepada kemampuan diri mreka masing – masing.
Sebuah kekuatan social muncul pertama
kali adalah akibat adanya rasa kepercayaan diantara sesame anggota masyarakat .
Dari rasa kepercayaan itulah lalu muncul kekuatan jejaring social yang lama
kelamaan jejaring social diantara warga mampu berkembng menjadi sebuah lembaga
(institutionalized). Dan kekuatan
social merupakan hasil dari proses pelembagaan yang berlangsung di masyarakat
tersebut.
Kekuatan social tidak dapat muncul hanya
karna prakarsa dari beberapa orang, kekuatan muncul karena semua anggota
masyarakat saling membutuhkan dan memikirkan kepentingan satu sama lain. Hal –
hal ini sudah sangat sulit ditemukan di perkotaan sehingga kemungkinan
terjadinya sebuah kekuatan social di perkotaan bisa jadi hanya beberapa persen
saja.