Tuesday, March 17, 2015

Tumbuhnya Kekuatan Sosial di Perkotaan??



Sebuah masyarakat di suatu daerah memiliki hubungan kekerabatan yang berbeda – beda. di beberapa tempat, hubungan kekerabatan yang dekat antar anggota masyarakat dapat menciptakan sebuah masyarakat yang kolektif. Terutama masyarakat yang memiliki satu nilai dan norma yang sama. dan memiliki rasa toleransi yang tinggi sesame anggota masyarakatnya.
Bila hubungan kekerabatan tersebut terus menerus dibangun dan rasa kekeluargaan meningkat, maka hal ini akan menimbulkan sebuah hal yang dinamakan kekuatan social. Bila sebuah kekuatan social sudah menjadi kekuatan daripada daerah tersebut hal tersebut dapat saja berkembang menjadi sebuah kebudayaan local dan menjadi kearifan local budaya setempat.
Kekuatan social saat ini terutama dibangun oelh beberapa masyarakat di daerah adalah merupakan salah satu cara bagi mereka untuk bertahan hidup. Berdasarkan pendekatan Sustainable Livelihoods Approach manusia menyandarkan hidup pada lima modal yang dimiliki yaitu financial capital, human capital, natural capital, physical capital, dan social capital (Farrington et al. 1999). Kekuatan social yang dibangun oleh masyarakat dapat dikategorikan ke dalam modal social. dimana bagi masyarakat pedesaan modal tersebesar yang mereka miliki hanyalah sesame anggota masyarakat tersebut.

Dan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup dan mensejahterakan kehidupan mereka, mereka membangun kekuatan social tersebut. Namun, kekuatan social yang dibangun di suatu masyarakat, dapat hilang perlahan dan akan punah bila tingkat homogenitas menurun dan  rasa toleransi yang ada diantara warga masyarakat  juga menurun.

Di perkotaan, dimana tingkat entropi sosialnya sangat tinggi, juga sifatnya yang heterogen karena berasal dari berbagai macam latar belakang suku . budaya , dan kepentingan , bentuk kekuatan social sepertinya akan sulit ditemukan. Bukan tidak mungkin terciptanya sebuah kekuatan di lingkungan perkotaan namun, tipe masyarakat kota yang sangat beragam, berasal dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda dan memiliki kepentinannya masing – masing terkadang melupakan bahwa mereka tidak hidup sendiri dalam kehidupan sehari – hari mereka.
Biasanya masyarakat perkotaan membentuk sebuah perkumpulan hanya karena mereka membutuhkan perkumpulan tersebut. itupun dibangun tidak menyeluruh. Seringkali berbeda wilayah atau lingkup RT atau RW saja, warga masyarakatnya sudah memiliki perkumpulan swndiri. Telah membentuk sebuah lembaga sendiri yang hanya mereka sepakati bersama sesama  warga yang berada dalam satu wilayah saja.
Perkumpulan yang didirikan oleh masyarakat perkotaan biasanya juga dibentuk bukan karena rasa keterikatan yang kuat dari dalam diri mereka. Walaupun ada beberapa lembaga di masyarakat seperti DKM, perkumpulan ibu – ibu PKK, dll , yang sebenarnya bertujuan untuk mendekatkan dan mengumpulkan masyarakat di sekitarnya, tidak semua warga berkenan bergabung dalam kelompok tersebut. Terdapat tingkat apatis yang tinggi di masyarakat perkotaan dimana bila mereka tidak ingin , mereka tidak akan mau melakukan suatu hal tersebut.
Dalam memenuhi kebutuhan hidup pun, masyarakat kota lebih mengandalkan kemampuan individu masing – masing . Mereka merasa, apa yang mampu membuat diri mereka bertahan hidup dan mampu mensukseskan hidupnya adalah melalui kemampuan dirinya sendiri. Masyarakat kota dibandingkan engan ungkapan tidak ingin membutuhkan orang lain , mereka lebih ingin dideskripsiskan sebagai manusia yang mandiri. Yang tidak harus meminta pertolongan ke orang lain selama masih mampu melakukan semua hal sendiri.
Walaupun begitu, mereka tetap harus menjaga keharmonisan hidup dalam bertetangga. Masyarakat kota biasanya tetap menyadari pentingna menjaga agar hubungan dengan masyarakat sekitar mereka tetap saling baik – baik saja. Namun, karna perbedaan kepentingan dan kesibukan orang kota lah yang membuat mereka semua jauh dari kata kekuatan social.
Belum lagi bila kehidupan perkotaan yang dimaksud adalah kehidupan perkotan ala warga kota metropolitan, yang hidup di wilayah gedongan, dimana rumah hanya dijadikan sebagai tempat mandi dan tidur. Mereka tidak akan mampu bersosialisasi secara intens dengan sesame warga yang tinggal di daerah setempat. Mereka pasti lebih condong untuk bersosialisasi dengan teman kerja mereka ataupun keluarga mereka saja.
Selain itu masyarakat kota cenderung meminta pertolongan kepada lembaga – lembaga formal yang sudah berdiri dan menawarkan jasa pertolongan terhadap sesuatu.Di perkotaan banyak sekali terdapat lembaga jasa dan tempat – tempat pemenuhan kebutuhan yang masyarakat bisa dapatkan. Dimana dalam mengakses jasa tersebut, mereka juga lebih menggantungkan kepada kemampuan diri mreka masing – masing.
Sebuah kekuatan social muncul pertama kali adalah akibat adanya rasa kepercayaan diantara sesame anggota masyarakat . Dari rasa kepercayaan itulah lalu muncul kekuatan jejaring social yang lama kelamaan jejaring social diantara warga mampu berkembng menjadi sebuah lembaga (institutionalized). Dan kekuatan social merupakan hasil dari proses pelembagaan yang berlangsung di masyarakat tersebut.
Kekuatan social tidak dapat muncul hanya karna prakarsa dari beberapa orang, kekuatan muncul karena semua anggota masyarakat saling membutuhkan dan memikirkan kepentingan satu sama lain. Hal – hal ini sudah sangat sulit ditemukan di perkotaan sehingga kemungkinan terjadinya sebuah kekuatan social di perkotaan bisa jadi hanya beberapa persen saja.

No comments:

Post a Comment